DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

MAINMAIN

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Rayhan Alfaro Ferdinand Siregar paling kiri saat menjadi pengibar bendera pusaka di Istana Negara tadi pagi (17/8). (Foto: Tayangan CNN Indonesia TV)

Oleh: Ronald Siregar dan Ayu Tifanny Chaerul Putri*

Setiap anak memiliki bakat dan potensinya masing-masing. Untuk anak-anak kami yang memiliki postur cukup tinggi, basket adalah pilihan utamanya setelah sempat aktif dalam sepak bola.

Setelah kembali ke Jakarta usai mengikuti ayahnya dinas sekolah di Inggris selama setahun, kami memilih memasukkan anak-anak untuk bersekolah di Al Izhar Pondok Labu. Kedua anak kami bernama Rayhan Alfaro Ferdinand Siregar (kelas XI) dan Rishad Androfan Johan Siregar (kelas VIII).

Rayhan Alfaro atau yang suka kami panggil Alfaro dan adiknya langsung aktif di ekstrakurikuler basket. Pas dengan hobi mereka selama ini. Belum lama masuk di SMA tahun lalu, Alfaro dipercaya sekolah untuk mempersiapkan diri ikut turnamen besar tingkat SMA yaitu Honda DBL seri DKI Jakarta.

Bagi Alfaro, bermain di ajang DBL adalah impiannya sejak SD. Saat dia bersekolah di Yogyakarta. Saat dia mulai aktif di ekkstakurikuler basket di SD Budi Mulia Dua, di bawah asuhan coachHanin. SMA Al Izhar yang merupakan tim baru untuk Alfaro bersiap mengikuti turnamen di bawah arahan coach Tika.

Kompetisi Honda DBL DKI Jakarta adalah hal luar biasa untuk keluarga besar basket Al Izhar. Walaupun tim AIPL (julukan SMA Al Izhar) belum berhasil meraih juara baik di tingkat regional maupun babak Championship.

Tahun ini, AIPL juga akan turut serta di Honda DBL. Alfaro pun diberi kepercayaan untuk kembali memperkuat skuad AIPL.

Tapi, di tengah persiapan DBL, Faro disarankan ayahnya untuk mengikuti seleksi Paskibraka, yang sudah dibuka pendaftarannya dari dua bulan lalu. Alfaro awalnya keberatan. Dia khawatir berbenturan dengan kegiatan basketnya. Selain aktif basket sekolah, dia juga merupakan anggota klub Indonesia Muda.

Saya sebagai seorang ibu mendukung saran dari Ayah Faro. Maklum, kakeknya Faro juga merupakan anggota paskibra pada 1960-an. Saya juga anggota paskibra era 1990-an. Sementara Ayah Faro juga pernah jadi komandan upacara bendera di Istana Negara. Di sisi lain saya juga nggak ingin dia melakukan apa yang tidak suka. Apalagi paskibra juga menguras fisik yang nggak main-main.

Tapi, akhirnya Faro luluh dengan arahan ayahnya. Berangkat dengan muka sedikit ditekuk, Faro pulang dengan muka semringah. Dia berhasil lolos ke tingkat selanjutnya untuk paskibraka.

Di waktu bersamaan, klub basketnya Indonesia Muda KU-18 lolos ke final dalam kejurwil Jakarta Pusat. Jadi dalam sehari Alfaro mengikuti dua kegiatan, yaitu seleksi paskibraka dan pertandingan semifinal basket.

Setelah berhasil lolos dia bilang ke saya, "Keren juga ma, tadinya abang pikir abang nggak akan lolos. Alhamdulillah masih bisa lolos ke wali kota Jaksel," katanya. Dalam hati saya sangat bersyukur dia bisa konsisten di dua bidang yang sama-sama berat.

Saya dan ayahnya mendengar celotehnya sambil mengingatkan bahwa proses yang harus dilewati masih sangat panjang untuk sampai ke tingkat Nasional. Diselingi candaan saya berkata, "Bisa lolos ke paskibra nasional nggak, bang?" Seperti biasa Alfaro yang memang punya kepercayaan diri menjawab: "InsyaAllah bisa, Ma".

Hari-hari selanjutnya untuk Alfaro tidak jauh dari latihan basket dan kegiatan seleksi paskibraka nasional. Niat yang setengah-setengah pada awalnya, semakin teguh dan mantap dari hari ke hari. Tidak jarang dia melatih aba-aba sambil menggoda kami para penghuni rumah dengan teriakannya.

Menariknya, belakangan Alfaro merasa basket adalah satu cara untuk refreshing setelah mengikuti latihan atau seleksi Paskibraka. Padahal dua kegiatan ini sangat menguras tenaga.

Tantangan berat sempat terjadi pada saat dua hari menjelang Alfaro mengikuti seleksi paskibra nasional tingkat DKI Jakarta. Anklenya mengalami cedera saat latihan basket di sekolah. Bengkak yang cukup besar membuat kami khawatir. Segala macam cara kami lakukan, karena pastinya itu akan mengganggu kegiatan dia.

Alhamdulillah pada saat keberangkatan anklenya mulai membaik. Saya dan ayahnya hanya bisa melepas Alfaro dengan doa semoga dia dapat memberikan penampilan terbaik, dan bisa terpilih mewakili DKI Jakarta ke tingkat Nasional.

Alfaro berangkat dengan niat dan tekad yang kuat untuk memberikan kemampuan terbaiknya. Setelah bertemu dengan beberapa kakak-kakak seniornya di Jakarta Selatan sepertinya Alfaro semakin termotivasi.

Ditambah lagi dengan sedikit tantangan dari saya yang juga purna Paskibraka Indonesia pada 1991. Juga kakek Alfaro yang bertugas di Istana pada 1967. Dorongan dari kami memompa semangatnya. Salah satu kalimat motivasi yang saya sampaikan adalah, "Kalau mama aja bisa, masak Abang (Alfaro) nggak bisa juga?". Wajahnya selalu terlihat bersemangat ketika saya menantangnya seperti itu.

Alhamdulillah rangkaian panjang seleksi Alfaro di DKI Jakarta berhasil dilewati. Hasilnya, Alfaro terpilihnya sebagai calon Paskibraka Nasional dari Provinsi DKI Jakarta. Support dari teman-teman, pelatih basketnya di Indonesia Muda, sekolah, dan juga keluarga selalu mendorong langkah Alfaro mengikuti seleksi ini.

Berangkat dari anak basket yang mulai dikenal dari ajang DBL 2018, Alfaro mencoba mengasah kemampuan baris berbaris untuk mempertebal jiwa nasionalismenya dengan mengikuti seleksi Paskibraka. Bukan hal mudah untuk Alfaro menjalani dua kegiatan ini tapi dengan tekad dan niatnya Alhamdulillah Alfaro siap untuk mengikut upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia di Istana. Bersama rekan-rekan lainnya dari 34 provinsi.

Mohon doa dari semuanya semoga Alfaro sehat selalu dan dapat menjalankan latihan dan tugasnya dengan baik. Terima kasih kepada Honda DBL yang sudah ikut mengisi hari-hari Alfaro dan memberikan poin positif untuk Alfaro dalam kehidupannya.

Doa kami selalu tercurah untukmu. Kami bangga denganmu. Salam cinta serta kasih sayang dari kami orang tua Rayhan Alfaro Ferdinand.

* Kedua penulis merupakan orang tua Rayhan Alfaro Ferdinand Siregar

Comments (3)